Sahabat dari Kotak Biru | CERBUNG / CERITA BERSAMBUNG


Sahabat dari Kotak Biru

Part 1

Suasana sore hari yang begitu tenang. Udara terasa hangat kala itu. Mentari perlahan-lahan kembali ke peraduannya. Kini yang tersisa hanya cahaya merah di langit bagian barat.

Jam dinding ruang tengah berdetak menunjukkan pukul 5 sore. Televisi menyala menyiarkan berita. Sosok gadis berambut panjang dibiarkan terurai tak teratur sedang duduk di depan televisi dengan setumpuk buku tebal dan pulpen di tangan. Wajahnya menunduk dan tampak fokus pada buku-buku yang dihadapinya. Seolah tak tertarik dengan apa yang disiarkan di televisi.

“Haahh, salah mulu! Gimana sih caranya? Kesel deh!” gerutunya.

“.... Korban diduga diculik setelah pulang dari klub basket di sekolahnya. Berdasarkan keterangan dari beberapa temannya, korban sempat singgah ke sebuah kios terdekat. Namun, hingga saat ini korban belum juga kembali ke rumah ataupun menunjukkan wujudnya. Namun, saat pemilik kios tersebut di—"

Tiit!

“—huhh, gue maunya nonton FTV, bukan berita nggak jelas kebenarannya!”

Televisi yang tadinya menyala kini dimatikan oleh gadis itu, Maira namanya. Tak berselang lama setelahnya, ponselnya berbunyi. Dengan ogah-ogahan, ia mengambilnya dan menekan tombol.
“Ya, halo, Kak? .... Ohh, oke-oke.... Ya, nanti bakal kukunci semua pintu.... Beres, Kak! Ya.... Ya, hati-hati!"

Tuut!

Panggilan berakhir. Maira kembali fokus pada buku-buku tebalnya. Rumah tampak sepi karena hanya dirinya seorang saat ini yang masih diam di rumah. Kedua orangtuanya sedang pergi ke luar kota dan akan pulang besok malam. Sedangkan kakak laki-laki satu-satunya masih sibuk bekerja dan tadi dirinya mendapat telepon bahwa kakaknya akan pulang larut karena salah satu karyawan ada yang kecelakaan. Terpaksa Maira harus bertahan dalam sepi hingga besok pagi, itupun jika kakaknya sudah pulang dan tidak bangun kesiangan.

“Hahhh, ini apa sih jawabannya? Kenapa dari tadi jawabanku nggak ada di pilihan ganda? Aku yang salah atau emang nggak ada jawabannya, sih?”

Maira melemparkan pensilnya ke sembarang arah hingga terpental ke arah meja televisi di depannya. Ia menutup buku kasar lalu merebahkan punggungnya ke sofa di belakangnya. Gadis itu menghela napas panjang lalu mengembuskan pelan. Tangannya ditutupkan di atas mata seolah enggan menatap langit-langit rumah.

Tok ... tok ... tok ...!

Maira terkejut bukan main. Ia langsung bangun dari posisinya dan berjaga beberapa saat. Ada tamu? Maira pikir kedua orangtuanya tak mengucapkan apapun jika ada rekan mereka yang akan datang ke sini. Kakaknya pun tak mungkin karena sepertinya semua orang kantor sedang berduka. Lalu? Temannya? Jika itu benar, seharusnya mereka meneriakkan namanya dengan keras. Merasa penasaran dan tak ingin menebak-nebak terlalu lama, ia bangkit dan melangkah menghampiri pintu di ruang tamu.

Klek!

Saat pintu dibuka, Maira tak mendapati seorang pun. Hari semakin senja sehingga jalanan semakin sepi. Gadis berambut panjang itu celingak-celinguk, tetapi tak ada siapa-siapa juga. Merasa tak percaya dan yakin bahwa tadi ada seseorang yang mengetuk pintunya, ia pun melangkah ke luar pintu ....

“Argghh!"

Bruk!

Maira terjatuh dan tubuhnya seperti bola yang digelindingkan di lantai. Ia mengerang kesakitan tapi segera berdiri. Gadis itu terjatuh saat hendak keluar karena tersandung kotak biru yang tergeletak di depan pintu. Maira penasaran dan mengambilnya. “Punya siapa, nih? Buat gue?” Lalu ia membawa benda itu ke dalam rumah.

“Ini apaan, sih? Perasaan Kakak nggak ngomong apa-apa soal ini, deh. Mama Papa juga, tuh,” ucap Maira bingung. “Terus ini apaan? Dari siapa?” Gadis itu menatap kotak biru yang ia letakkan di atas meja. Buku-buku tebalnya digeser sehingga matanya hanya berpusat pada satu benda. 

Jangan-jangan ini jebakan? Atau ulah orang usil?

Penasaran dengan isi kotak biru itu, ia pun mulai membukanya. Jemari gadis itu menyentuh tutup kotak yang terbuat dari besi. Tunggu! Jangan-jangan isinya bom! Maira terdiam sebentar. Ia ragu dan takut. Zaman sekarang memang banyak berita tentang bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris. Di film-film juga banyak benda-benda yang jika disentuh bisa langsung meledak. Terus tadi ngapain gue ambil, pikirnya kesal sekaligus takut.

Klutuk! Klutuk!

“Hahh?!”

Tiba-tiba kotak biru itu bergerak-gerak sendiri. Padahal, Maira belum membukanya. Ia hanya menyentuh bagian luar kotak, itu saja.

Klutuk! Klutuk!

“A-apa-apaan, sih? Kak Surya jahat deh, nakut-nakutin adeknya pakai beginian!”

Maira bergidik ngeri sambil meraih ponselnya. Ia bermaksud menghubungi kakaknya itu yang dikiranya telah mengirimkan benda aneh itu. Meski sebenarnya gadis itu meragukan perkiraannya.

Wing!

“Aahhh?” Sontak Maira melompat dari sofa saat melihat benda biru di depannya melayang. Bahkan, ponselnya ikut terpental jauh dari posisinya saat ini. Maira ingin mengambilnya, tapi ia ketakutan. Sedangkan kotak biru itu kian lama kian tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit rumahnya. Namun, sejurus kemudian benda itu terjatuh ke lantai dan terbuka mengeluarkan asap putih.

“Aduh, ini kenapa, sih? Barang apaan coba? Awas aja kalau beneran Kak Surya yang ngirimin ini!”

Asap putih itu tersebar ke mana-mana hingga Maira sendiri tak bisa melihat apapun. Perlahan-lahan, ia bangkit dan meraba-raba sekeliling. Akhirnya, lama-kelamaan asap itu menghilang dengan sendirinya. Menyisakan barisan asap putih kecil yang keluar dari kotak biru.

Maira penasaran sekaligus ketakutan. Ia masih heran dengan apa yang terjadi barusan. Setelah menelan ludah susah payah, ia memberanikan diri melihat isi kotak itu. Sayang, belum sempat kepalanya berayun, kilatan cahaya memancar dari dalamnya.

Wush!

Sebuah dorongan dahsyat yang muncul bersamaan dengan angin kencang dari kotak biru. Maira jatuh terpental karenanya. Ia merintih kesakitan. Samar-samar, ia bangkit dan berdiri.

“Hahh?”

“Eh?”

Sosok laki-laki yang berpakaian training dengan atasan seragam khas Manchester United berdiri di hadapannya.

“Si–siapa Lo?” Maira terkejut bukan kepalang. Ia mundur perlahan sambil meraba-raba sekeliling. Sebuah sapu bersandar di dinding. Ia mengambilnya lalu menodongkan ke laki-laki di hadapannya. “Lo jangan macam-macam sama gue! Semua orang di komplek bisa langsung datang kalau gue teriak! Siapa Lo?

“A–anu gu–gue ... gu–gue—“

“—jangan kebanyakan mikir! Mending Lo keluar dan pergi dari sini!”

“Ta–tapi—“

“—pergi!”

Bersambung....

Link lanjutan cerita : Part 2

Komentar